Teori KB

2.1. PERSALINAN
2.1.1. Defenisi
Persalinan dan kelahiran normal adalah suatu proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan, dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 18 jam tanpa komplikasi pada ibu maupun janin ( Saifuddin, 2002 : 100 ).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup ke dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain   (Mochtar, 1998 : 91).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (keluar sendiri) (Manuaba, 1998 : 157).

2.1.2.    Teori yang Menyatakan Kemungkinan Proses Persalinan
2.1.2.1.      Teori keregangan
1)    Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.
2)    Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat mulai. Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses persalinan.
2.1.2.2. Teori penurunan progesteron
1)    Proses penurunan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu.
2)    Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin.
3)    Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu.

2.1.2.3. Teori oksitosin internal
1)    Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parsi posterior.
2)    Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks.
3)    Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat mulai.
2.1.2.4. Teori prostaglandin
1)    Konsentrasi prostaglandin meningkatkan sejak umur kehamilan 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua.
2)    Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi sehingga hasil konsepsi dikeluarkan.
3)    Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya persalinan.
2.1.2.5.    Teori Hipotalamus-Pituitari dan Glandula Suprarenalis
1)    Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak berbentuk hipotalamus.
2)    Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas janin, induksi (mulainya) persalinan.
3)    Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus pituitari dengan mulainya persalinan.
4)    Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.
(Manuaba, 1998 : 159)

2.1.3. Permulaan Terjadinya Persalinan
Sebelum terjadinya persalinan adanya tanda-tanda kala pendahuluan (preparatory stage of labor), yaitu:
2.1.3.1.    Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutam pada primigravida kehamilan 36 minggu.
2.1.3.2.    Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri turun
2.1.3.3.    Perasaan ingin kencing atau susah kencing (polikisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
2.1.3.4.    Perasaan sakit di perut dan di pinggang karena adanya kontraksi ringan dari uterus dan tertekannya fleksus  Frankehauser yang terletak di sekitar serviks  (panm & pains).
2.1.3.5.    Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresi-nya bertambah, adanya pengeluaran lendir campur darah (bloody show).
(Mochtar, 1998 : 159)

2.1.4. Tanda–Tanda Persalinan
2.1.4.1.    Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.
2.1.4.2.    Dapat terjadi pengeluaran pervaginam pembawa tanda (bloody show), karena robekan kecil pada serviks pengeluaran lendir campur darah.
2.1.4.3.    Kadang–kadang disertai pecahnya ketuban.
2.1.4.4.    Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks (perlunakan, pendatran, dan pembukaan serviks).
(Manuaba, 1998 : 160)

2.1.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
2.1.5.1.   Power ( kekuatan yang mendorong janin keluar )
1)    His / kekuatan otot rahim
2)    Kontraksi otot dinding perut
3)    Ketegangan dan kontraksi otot ligamentum rotundum.
2.1.5.2.   Passanger (faktor janin dan plasenta)
2.1.5.3.    Passage ( faktor jalan lahir )
1)    Bagian keras terdiri dari atas tulang–tulang panggul dan sendinya.
2)    Bagian lunak dari panggul terdiri dari otot dan ligamentum yang meliputi panggul sebelah luar, tengah, dan dalam.
(Mochtar, 1998 : 93 )

2.1.6. Tahap-tahap persalinan
2.1.6.1.    Kala I (pembukaan), dimulai dari adanya pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap (10 cm)
1)    Tahapan kala I
(1)    Fase laten
Pembukaan serviks berlangsung lambat, sampai pembukaan 3cm, berlangsung dalam 7-8 jam.
(2)    Fase aktif
Berlangsung selama 6 jam, dibagi atas 3 subfase:
1.    Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam dengan pembukaan serviks 4 cm
2.    Periode dilatasi maksimum (steady) : berlangsung selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm
3.    Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap
Pada primigravida, fase di atas dilalui dengan serviks yang mendatar (effacement) terlebih dahulu, baru dilatasi. Ini berlangsung 13-14 jam. Sedangkan pada multigravida, serviks bisa mendatar dan membuka pada waktu yang bersamaan. Ini berlangsung 6-7 jam.
(Mochtar, 1998 )
2) Perubahan kala I
(1)    Perubahan fisiologis:
1.    Pembentukan segmen atas rahim (SAR) dengan segmen bawah rahim (SBR)
2.    Pembentukan lingkaran retraksi atau batas pinggir antara segmen atas rahim (SAR) dengan segmen bawah rahim (SBR)
3.    Pendataran dan pembukaan serviks
(2)    Perubahan psikologis
1.    Ibu merasa gelisah dan cemas
2.    Dalam waktu antara kontraksi ibu seolah-olah hilang ingatan
3.    Merasa mual dan muntah.

3) Asuhan yang diberikan pada kala I :
(1)    Pemantauan kemajuan persalinan
1.    Kondisi janin  : DJJ, molase, dan ketuban
2.    Kemajuan persalinan : pembukaan serviks penurunan kepala dan his
3.    Kondisi ibu : vital sign, cairan, obat-obatan, dan urine
(2)    Kehadiran seorang pendamping
(3)    Menjaga kebersihan ibu
(4)    Pengurangan rasa sakit dengan sentuhan dan masase, pijatan ganda pada panggul, penekanan pada lutut dan menganjurkan ibu untuk menarik nafas yang dalam dan melepaskannya secara perlahan.
(5)    Nutrisi dan hidrasi
(6)    Eliminasi BAK dan BAB
(7)    Persiapan persalinan baik ibu, penolong dan alat serta obat-obatan
2.1.6.2.  Kala II  (pengeluaran), dimulai dari pembukaan lengkap sampai keluarnya bayi.
1)  Tanda dan gejala kala II :
(1)    Ibu merasa ingin meneran bersama dengan kontraksi
(2)    Adanya tekanan pada rectum dan vagina
(3)    Perineum menonjol
(4)    Vulva, vagina, spincter ani membuka
Lamanya kala II pada primigravida ± 1,5 jam dan pada multipara
± 0,5 jam  ( Sarwono, 2002 : 184).
2)  Perubahan kala II:
(1)    Perubahan fisiologis:
Dinding segmen atas rahim (SAR) bertambah tebal dengan majunya persalinan yang dapat mendorong anak keluar. Segmen bawah rahim (SBR) menipis karena diregang (relaksasi dan dilatasi).

(2)    Perubahan psikologis
1.    Ibu merasa khawatir terhadap keselamatan diri dan janinnya
2.    Ibu merasa ingin buang air besar
3.    Semangat ibu timbul karena ingin segsra melahirkan bayinya
3)   Asuhan yang diberikan pada kala II :
(1)    Pemantauan kemajuan persalinan
(2)    Nutrisi dan hidrasi
(3)    Eliminasi bimbingan meneran
(4)    Membantu kelahiran bayi
1.    posisi ibu
2.    pencegahan laserasi
3.    melahirkan kepala sampai dengan badan bayi secara  keseluruhan
2.1.6.3.  Kala III (kala  uri), dimulai setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta
1) Tanda pelepasan plasenta :
(1)    Perubahan bentuk TFU
(2)     Tali pusat  memanjang
(3)    Semburan darah tiba-tiba
2)  Manajemen aktif kala III
Tujuan  manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kala III persalinan dan mengurangi kehilangan darah.
Manajemen aktif kala III meliputi:
(1)    Pemberian suntikan oksitosin
(2)    Melakukan penegangan tali pusat terkendali
(3)    Pemijatan fundus uteri ( masase )
(Depkes, 2004)
3)  Cara pelepasan Uri
(1)    Schultze, lepasnya uri seperti menutup payung (80 %), yang lepas dulu adalah bagian tengah, lalu terjadi retroplasental hematoma yang menolak uri mula–mula bagian tengah dan seluruhnya. Menurut cara ini perdarahan biasanya tidak ada selama uri lahir dan banyak setelah uri lahir.
(2)    Duncan, lepasnya uri mulai dari pinggir. Jadi pinggir uri lahir duluan (20%). Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban serempak dari tengah dan pinggir plasenta.
(Mochtar, 1998)
4)   Perasat–perasat untuk melepaskan Uri
(1)    Kustner, dengan meletakkan tangan disertai tekanan di atas simphisis, tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk…. belum lepas, diam atau maju … sudah lepas.
(2)    Klein, sewaktu ada his, rahim didorong sedikit, bila tali pusat kembali…. belum lepas, diam…. sudah lepas
(3)    Strassman , tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar, rahim belum lepas… tidak bergetar…. sudah lepas ( Mochtar, 1998 )
2.1.6.4.  Kala IV  ( Pengawasan ), dimulai setelah plasenta lahir sampai 2 jam post partum.
1)    Lakukan pemijatan uterus untuk merangsang uterus berkontraksi
2)    Evaluasi tinggi uterus
3)    Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan, salah satu caranya adalah memperkirakan berapa banyak botol berukuran 500 ml yang bisa dipenuhi darah tersebut
4)    Periksa apakah ada laserasi jalan lahir dan episiotomi
5)    Evaluasi keadaan ibu secara umum
6)    Dokumentasikan semua hasil pemeriksaan pada halaman belakang partograf.
(Depkes, 2004)

2.1.7. Perubahan Fisiologis Persalinan
2.1.7.1.   Pengeluaran energi
Pengeluaran energi ekstra mengakibatkan peningkatan energi panas dan berkeringat yang dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh.
2.1.7.2       Suhu tubuh
Suhu tubuh agak meningkat selama melahirkan karena peningkatan metabolisme terutama setelah melahirkan, mencapai 0,5°C sampai 1°C.
2.1.7.2       Tekanan darah
Kenaikan terjadi selama kontraksi, sistole rata–rata 10-20 mmHg. Rasa takut dan cemas juga menaikan tekanan darah.
( Ladewig, 2006)

2.1.8. Partograf
2.1.8.1. Defenisi
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik (Depkes, 2008 : 55).

2.1.8.2. Tujuan penggunaan partograf
1)    Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
2)    Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.
3)    Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan laboratorium, membuat keputusan klinik dan asuhann atau tindakan yang diberikan dimana semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan bayi baru lahir.
(Depkes, 2008 : 55)

2.1.8.3. Pencatatan selama fase aktif persalinan
1)    Informasi tentang ibu
2)    Kondisi janin
3)    Kemajuan persalinan
4)    Jam dan waktu
5)    Kontraksi uterus
6)    Obat-obatan dan cairan yang diberikan
7)    Kondisi ibu
8)    Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya
( Depkes, 2008 : 56-57)

2.1.8.4. Pemantauan
Tabel 4
Frekuensi Minimal Penilaian dan Interventasi dalam Persalinan Normal

Parameter    Frekuensi pada fase laten    Frekuensi pada fase aktif
Tekanan darah    Setiap 4 jam    Setiap 4 jam
Suhu badan    Setiap 4 jam    Setiap 2 jam
Nadi    Setiap 30-60 menit    Setiap 30-60 menit
Denyut jantung janin    Setiap 1 jam    Setiap 30 menit
Kontraksi    Setiap 1 jam    Setiap 30 menit
Pembukaan serviks    Setiap 4 jam *    Setiap 4 jam *
Penurunan    Setiap 4 jam *    Setiap 4 jam *
*Dinilai pada setiap pemeriksaan dalam
(Saifuddin, 2002 : 104)

2.1.8.5. Mencatat temuan pada partograf
1)  Informasi tentang ibu
Meliputi nama, umur, gravida, tanggal dan waktu mulai dirawat, waktu pecahnya selaput ketuban.
2)  Kesehatan dan kenyamanan bayi
(1)    DJJ
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf antara garis tebal angka 100-180,  tetapi penolong harus waspada bila DJJ dibawah 120 atau diatas 160.
(2)    Warna dan keadaan air ketuban
Catat temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ dengan mengunakan tanda:
U : ketuban utuh ( belum pecah )
J  : ketuban sudah pecah dan berwarna jernih
M : ketuban sudah pecah dan bercampur dengan mekonium
D  : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur dengan darah
K  : ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (kering)

(3)     Moulage
Setiap kali melakukan pemeriksaan nilai penyusupan janin. Catat temuan pada kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban, dengan menggunakan tanda :
0:  tulang – tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dipalpasi
1:  tulang- tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2: tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tapi masih bisa   dipisahkan
3:   tulang- tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan
3)  Kemajuan persalinan
(1)    Pembukaan serviks
Beri tanda untuk temuan–temuan dari pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada. Hubungkan tanda “ X “ dari setiap hasil pemeriksaan dengan garis utuh.
(2)     Penurunan bagian terbawah
Pada persalinan normal, setiap kemajuan persalinan diikuti dengan penurunan bagian terbawah  janin. Tapi ada kalanya, turunnya bagian terbawah janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar 7 cm.
(3)     Garis waspada dan garis bertindak
Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus berada di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.
4)   Jam dan waktu
(1)    Waktu mulainya fase aktif persalinan
(2)    Waktu aktual saat melakukan pemeriksaan  atau penilaian.

5)   Kontraksi uterus
Nyatakan lamanya kontraksi dengan :
Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya kurang dari 20 detik

Beri garis-garis dikotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya 20–40 detik

Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya lebih dari 40 detik
.
5

4

3

2

1

0
1                2                3

Dalam waktu 30 menit pertama :
(1)       Dua kontraksi dalam 10 menit
(2)       Lamanya kurang dari 20 menit
Dalam waktu 30 menit yang kelima :
(1)     Tiga kontraksi dalam waktu 10 menit
(2)     Lamanya 20 – 40 menit
Dalam waktu 30 menit ketujuh :
(1)     Lima kontraksi dalam 10 menit
(2)     Lamanya lebih dari 40 detik

6)  Obat-obatan dan cairan yang diberikan
(1)    Oksitosin
(2)    Obat-obatan lain dan cairan infus

7)    Kondisi ibu
(1)    Nadi, tekanan darah, temperatur tubuh
(2)    Volume urine, protein, atau aseton
8)    Asuhan pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalam kolom yang tersedia disisi partograf)
(1)    Jumlah cairan peroral yang diberikan
(2)    Keluhan sakit kepala atau penglihatan kabur
(3)    Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya
(4)    Persiapan sebelum melakukan rujukan
(5)    Upaya rujukan
(Depkes, 2008 : 57-64)

2.2.9. Robekan perineum
2.2.9.1.     Derajat satu, laserasi superfisial, otot-otot yang mendasari tidak mengalami kerusakan.
2.2.9.2.    Derajat dua, lasuerasi termasuk robeknya otot-otot perineal.
2.2.9.3.    Derajat tiga, kerusakan termasuk kerusakan sfingter ani eksternal parsial atau seluruhnya.
2.2.9.4.    Derajat empat, terdapat kerusakan sfingter eksternal dan internal serta mukosa rektal seluruhnya.
(Liu, 2007 : 136)

2.2. PRE-EKLAMPSIA
2.2.1. Pengertian
Pre-eklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang yang timbul karena kehamilan.penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa (Wiknjosastro, 2005: 282).
Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Untuk menegakkan diagnosis pre eklamsia, kenaika tekanan sistolik harus 30 mmhg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan, atau mencapai 140 mmhg atau lebih. Kenaikan tekanan diastolik sebenarnya lebih dapat dipercaya. Apabila tekanan diastolik naik dengan 15 mmhg atau lebih, atau menjadi 90 mmhg atau lebih, maka diagnosis hipertensi dapat dibuat. Penentuan tekanan darah dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat (Wiknjosastro, 2005: 282).
Edema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.edema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre eklampsia (Wiknjosastro, 2005: 282).
Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1 atau 2 + atau 1 g/l atau lebih dalam air kencing yang dikeluarkan dengan cateter atau midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam (Wiknjosastro, 2005: 282).

2.2.2. Pembagian Pre-eklampsia
2.2.2.1.    Pre eklampsia berat
1)    Tekanan sistolik 160 mmhg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmhg atau lebih
2)    Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24 jam 3 atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif
3)    Oliguria, air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam
4)    Keluhan selebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium
5)    Edema paru-paru atau sianosis (Wiknjosastro, 2005: 282).
2.2.2.2.    Pre eklampsia ringan
1)    Tekanan diastolik 90-110 mmhg (2 pengukuran berjarak 4 jam) pada kehamilan >20 minggu
2)    Proteinuria  sampai ++ (Saifuddin, 2002: 35)
2.2.3. Penanganan Pre-eklampsia Ringan
Jika kehamilan < 37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan
2.2.3.1.    Pantau tekanan darah, proteinuria, reflek, dan kondisi janin
2.2.3.2.    Lebih banyak istirahat
2.2.3.3.    Diet biasa
2.2.3.4.    Tidak perlu diberi obat-obatan
2.2.3.5.    Jika rawat jalan tidak mungkin raweat dirumah sakit
1)    Diet biasa
2)     Pantau tekanan darah 2 kali sehari, proteinuria 1 kali sehari
3)    Tidak perlu obat-obatan
4)    Tidak perlu diuretic, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut
5)    Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan
(1)    Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda pre eklampsia berat
(2)    Control 2 kali seminggu
(3)    Jika tekanan diastolik naik lagi→rawat kembali
6)    Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan →tetap dirawat
7)    Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan
8)    Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai pre eklampsia berat
2.2.3.6.    Jika serviks matang lakukan induksi dengan oxitosin 5 IU dalam 500 ml dekstrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin
2.2.3.7.    Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol, atau catater foley, atau terminasi dengan seksio sesarea
(Saifuddin, 2002 : 211-212)

2.2.4.    Penanganan pre-eklampsia berat
2.2.4.1. Penanganan kejang
1)    Beri obat anti konvulsan
2)    Perlengkapan untuk penanganan kejang ( jalan nafas, sedotan, masker oksigen, oksigen).
3)    Lindungi pasien dari kemungkinan trauma.
4)    Aspirasi mulut dan tenggorokan.
5)    Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi trendelendburg untuk mengurangi resiko aspirasi.
6)    Beri oksigen 4-6 liter /menit
(Saifuddin, 2002: 212)
2.2.4.2. Penanganan umum
1)    Jika tekanan diastolic lebih dari 110 mmhg, berikan anti hipertensi, sampai tekanan diastiolik diantara 90-100 mmhg
2)    Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar
3)    Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi over load
4)    Cateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria.
5)    Jika jumlah urine kurang 30 ml/jam:
(1)    Infuse cairan dipertahankan 1/8 jam
(2)    Pantau kemungkinan edema paru
6)    Jangan tinggalkan pasien sendirian.Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.
7)    Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap jam.
8)    Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.krepitasi merupakan tanda edema paru. Jika ada edema paru, stop pemberian cairan, dan berikan diuretik misalnya furosemide 40 mg IV.
9)    Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside. Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit kemungkinan terdapat koagulopati.
(Saifuddin, 2002 : 212)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: